Translate

Senin, 23 Juni 2014

Setangkai Edelweis

“Pops, Pops ... aku pinjem bukunya!” Kata Ryan dihadapan Natasha, Gilang, dan Lala. Gilang terus menyela. “Wah,wah...sekarang dia manggilnya Pops,” kata Gilang menggoda. Entah karena apa, Ryan si ketua OSIS itu cuma memandangku sejurus. Aku pun memandangnya sejurus, enggak ada yang lain memang. Namun.... panggilan itu sanggup membuat mataku terasa pedih.
“Eh, iya. Iya, Yan. Sorry aku lupa.” Kataku buru-buru dan memberikan buku sejarah yang kubawa. Lala malah tertawa bareng Gilang dan Natasha.
“Yang pinjem aneh banget ya, kagak biasanya.” Seru Natasha masih dengan tawanya.
Aku ikut tersenyum.
Bel tanda pulang berbunyi sejak tadi, tapi aku masih belum ingin beranjak dari bangkuku. Sampai akhirnya aku harus pergi ketika Mas Yanto, office boy disekolah menyuruhku untuk segera meninggalkan kelas yang akan dibersihkannya. Aku tersenyum sambil meninggalkan kelas.
“Pops...! Pops...!”
Menggema lagi panggilan Ryan padaku. Ah ..., sendu sekali suara itu kudengar. Bagai dari alam jauh yang senantiasa bergema dengan renunganku. Panggilan seseorang yang sudah lama hilang dalam kalbuku. Dan aku menyukai panggilan itu.
Ah .... andai saja waktu bisa kubalik, pasti aku akan minta Tuhan membalik lembaran hitam yang pernah terjadi dua tahun silam. Kalau saja aku turut dalam tragedi itu, mungkin sekarang aku tak kembali mengenang kepedihan ini.
Bayang-bayang yang hampir sirna dari anganku, kini mencuat kembali. Ceria senyumnya. Tatapannya yang lembut dan penuh kasih. Candanya yang kocak dan kebandelan-kebandelannya yang masih ngangenin. Ah .... serasa baru kemarin aku mendengarnya. Semua yang lekat dalam anganku. Sementara waktu bukan lagi berselang satu hari. Semuanya sudah berlalu dua tahun yang lalu. Oh, betapa cepatnya waktu meninggalkanku.
Sebagai anggota pecinta alam, dia cukup handal. Pengalamannya di arena penjelajah, lintas alam, naik turun gunung sudah banyak. Sering juga aku mengikutinya kalau sekolah libur. Mungkin itu juga sebabnya aku tertarik menjadi pecinta alam. Dia pun sering bepergian. Tapi di manapun tempatnya, dia selalu nyempetin untuk menghubungiku. Ya, memang kadang-kadang aku suka mengkhawatirkan keselamatannya.
Hari itu ... semuanya masih lekat dalam ingatanku.
“Pops, aku dengan tim akan menjelajah Gunung Gede,” katanya malam itu.
“Oh, ya? Kapan?” tanyaku biasa. Entahlah saat itu aku tak berminat mendengarkan ceritanya.
“Hey, Popy. Kamu kenapa? Dari tadi kamu ogah-ogahan gitu, sih? Memangnya Mas Raka punya salah apa sama kamu?” tanyanya sambil mendekat.
Aku menggeleng. “Enggak apa-apa. Mas Raka kapan mau ke Gunung Gede?”
“Besok Sabtu pagi. Kamu mau ikut? Sekolah lagi libur, kan?” tanyanya kemudian.
“Wah, mendadak banget, Mas Raka. Aku gak bisa kalo Sabtu. Apa Mas Raka harus ikut dalam pendakian kali ini? Rasanya Popy gak sreg kalo Mas Raka ikut dalam pendakian kali ini.” Kataku ragu-ragu.
“Ah, tentu saja gak bisa, Pops! Semuanya sudah dipersiapkan dengan matang. Enggak enak, kan kalo ketuanya ngundurin diri. Lagian aku udah lama pengen kesana, Pops.”
“Tapi rasanya enggak sreg, Mas Rak. Bener deh, perasaan Popy enggak enak. Mas Raka batalin aja!” seruku agak keras.
“Kamu gila, Popy!” serunya pun agak keras.
Aku hanya terdiam.
“Maaf, bukan aku mau ngebentak kamu. Tapi pikir dong, pake rasio! Persiapannya enggak cukup sehari dua hari. Sudah repot waktu, minta izin kesana-sini, eh sekarang dibatalin gitu aja. Ah, itu bener-bener pekerjaan yang percuma.”
“Jadi, Mas Raka tetep mau berangkat?” tanyaku.
“Yaa... “ jawabnya ragu-ragu.
“Kalo Popy enggak ngizinin?”
Please.... jangan buat semuanya jadi kacau!”
Aku diam membisu. Membiarkan dirinya berpikir.
“Pops, Mas Raka harus berangkat. Kamu enggak keberatan, kan? Popy tau kan ini udah jadi impian Mas Raka dari dulu. Jadi.... kenapa Popy masih enggak ngizinin segala?”
Mata bening dengan bola matanya yang cokelat itu menatapku. Dengan kesungguhan ada dimata itu. Dan aku tidak ingin melihat mata itu kecewa. Aku enggak ingin melihatnya.
“Boleh, kan Pops? Ayo!” katanya setengah membujuk.
“Iya deh. Tapi pulangnya bawa edelweis, ya?”
Dia mengangguk mantap. “Thanks a lot” ujarnya dengan tawa lepas.
Keesokan harinya, Mas Raka benar-benar berangkat bareng teman-temannya. Aku hanya mengantarkannya sampai stasiun.
Sebenarnya bukan maksudku menuntut setangkai bunga edelweis. Aku hanya ingin dia tetap mengingatku meskipun enggak pulang kerumah. Kupikir dengan permintaanku dia akan selalu ingat denganku. Rasanya, aku ikut berdosa pada Mas Raka. Begitu besar rasa kasihnya padaku. Demi setangkai edelweis, dia rela mengorbankan dirinya. Ya, tebing terjal itu tega menghempaskan dirinya. Mas Raka meninggal dengan setangkai bunga edelweis ditangannya.
Aku sering menyesal kenapa harus bunga edelweis? Tetapi, siapa yang bisa menduga jalannya takdir? Mungkin kalo aku beri tau secara langsung dan terus terang, aku pun akan menerimanya walaupun berat. Kutangisi pun, Mas Raka enggak akan kembali.
Tetapi yang mebuatku serasa hampir gila adalah ulah keluargaku dan keluarga Mas Raka. Mereka sengaja menyembunyikan kematian Mas Raka dariku. Aku tak sempat melihat wajahnya untuk terakhir kali. Bahkan aku enggak hadir saat pemakamannya.
Dan, aku tau segalanya setelah Mas Andi, sahabat Mas Raka kupaksa ngomong semuanya. Karena hampir sebulan Mas Raka enggak pernah muncul, dan juga selalu enggak ada kalo kuhubungi ke rumahnya. Padahal, temen-temennya udah pada pulang. Sepertinya, mereka semua sengaja menyembunyikan kematian Mas Raka. Keterlaluan memang. Namun, itu karena mereka menyayangiku. Mungkin mereka enggak tega melihatku terlalu berduka.
Sampai kini, aku enggak sanggup untuk mencari penggantinya. Mungkin benar kata pepatah, “First love never die”. Nyatanya, sampai sekarang aku enggak pernah bisa melupakan segala kenangan tentang Mas Raka. Terlebih karena rasa bersalahku karena permintaan setangkai edelweis. Mungkin kalo aku enggak minta, tragedi itu enggak akan terjadi. Aku enggak akan mengenangnya seperti ini, karena mungkin kini dia lagi bercanda denganku.
Ah .... ternyata itu hanya lamunanku. Kutatap pusara yang bertuliskan namanya. Aku menatap lurus kebawah, seolah pandanganku menembus hingga tanah pembatas. Kulihat disana Mas Raka seperti tersenyum melihatku. Seolah dia mengerti kata hatiku yang paling dalam dan memaafkan kesalahanku dengan senyum tulusnya.

Hanya Tuhan yang tau kalau aku tidak ingin perpisahan ini terjadi. Bunga kamboja jatuh satu per satu. Selamat tinggal Mas Raka.... aku akan selalu mendoakanmu.


Created by Popy Tasya Rahayu

Senin, 16 Juni 2014

Suka Duka Jadi Orang yang 'Enggak Enakkan'

“Duh gak enak nih gua kalo....”
“Dia pernah bantuin gua, ya gak enak aja kalo gua....”
“Gua capek sih, tapi kan dia....”
“Gimana ya, kalo gak dateng ya gak enak aja sama....”

            Kamu pernah mengalami kejadian kayak gitu? Gimana rasanya jadi orang yang ‘enggak enakan’? Emang serba salah sih, tapi coba kamu pikir-pikir lagi deh. Jadi orang yang ‘enggak enakan’ itu emang positive tapi dimana ada positive pasti selalu ada negativenya.
            Dari segi positivenya, dimata orang-orang kamu diannggap sebagai super hero bagi mereka yang membutuhkan kamu, dan kamu bisa dianggap sebagai orang yang dermawan, baik hati, suka menolong, otomatis disitu kamu akan dapet temen banyak yang baik/pura-pura baik/yang cuma manfaatin kamu doang.
            Seperti yang aku bilang sebelumnya, dimana ada positive pasti disitu ada yang negative, gak tau kenapa ya mungkin mereka emang udah jodohnya. Loh! Kok malah jadi kesini? Oke lanjut pembahasan kita sebelumnya. Dan dari segi negativenya waktu yang kamu kerjakan jadi terbuang sia-sia. Kamu tau arti kata Time is Money? Iya, waktunya dapet tapi uangnya gak dapet-dapet. Seharusnya kamu bisa manfaatin waktu kamu dengan sebaik mungkin , tapi disini kamu malah nyia-nyiain waktu kamu dengan mengurusi masalah orang yang enggak penting banget. Buat ngurus kehidupan sendiri aja belum tentu bener, apalagi buat ngurusin kehidupan orang lain. Hehe...
            Gimana sih caranya membuang sifat yang ‘enggak enakan’? Nih, aku punya sedikit tips buat kamu:

Tegas
            Seseorang yang punya sifat ini karena tidak memiliki pendirian sendiri, dia tidak bisa mengatakan ‘tidak’ pada orang lain yang membutuhkan bantuannya. Sesuatu yang seharusnya ia tolah tapi ia malah menerimanya. Gak enakkan kalo lain dihati tapi lain juga dimulut. So, kamu harus bisa tegas dalam mengambil keputusan itu.
Mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu
            Kalau memang sifat kamu ini udah mendarah daging, ya mau gimana lagi. Nih, aku saranin untuk mengerjakan yang lebih penting dulu. Misalnya, kalau kamu punya tugas kampus/sekolah yang harus dikumpulin besok, dan tiba-tiba temen kamu dateng minta bantuan kamu untuk menyelesaikan masalahnya sama pacarnya, kamu lebih milih mana? Ngerti kan.
Mengerjakannya secara diporsi
            Emang susah dan capek kalo udah ngurusin masalah orang, apalagi urusan pribadi kamu juga lagi ruwet. Cobalah untuk sedikit demi sedikit kamu kerjakan nanti juga lama-kelamaan selesai semua, ya sama aja kayak lebih baik makan 1 piring tapi 3x sehari, daripada makan 1 bakul tapi 1x sehari. Duh jadi laper ngomongin makan, udahan ah.

            Jadi gimana, masih mau jadi orang yang ‘Enggak enakan’? Itu sih tergantung kamu yang ngejalanin. Tapi inget, kamu harus tau tempat, nggak semua masalah orang bisa kita selesaikan dengan pemikiran dan cara kita sendiri.

Sabtu, 08 Februari 2014

Permainan Piano Arwah Zuko

                Kriiiiiinnngg...!!! bel pulang pun berbunyi, Amanda segera bergegas untuk merapihkan buku dan alat tulis yang masih berantakan di mejanya. Salah satu temannya yang bernama Raka yang memang terkenal jahil dikelasnya memiliki ide untuk menjahili Amanda yang sedang kerepotan, Raka mengambil tempat pesil milik Amanda.
“Padahal udah SMA tapi tempat pensilnya kok boneka gini? Hahaha.” Ejek Raka.
“Eh! Gak sopan banget sih ngambil barang orang, balikin gak!” balas Amanda.
“Ambil aja kalo bisa.”
Raka segera berlari ke koridor kelas dan Amanda langsung mengejarnya, “Rakaaaa....sini balikin!!” ketika sedang berlari tiba-tiba guru BP menegur mereka, “Berhenti!” tegur guru BP.
Duh celaka, ada guru BP lagi. Harus bilang apa nih....
“Kalian ini kayak anak kecil aja,  kalian tahu kan tidak boleh lari-larian di area kelas?”
“Iya bu, saya tahu.”
“Kalau begitu sebagai hukumannya, kalian harus membantu ibu untuk memindahkan barang-barang ini ke gedung lama.”
Tanpa disadari, Raka sudah tidak ada ditempat.
“Loh anak laki-laki tadi kemana?” tanya guru BP.
Huhh, sial dia kabur lagi. Awas aja ya!
                ketika sampai di gedung sekolah lama, tiba-tiba guru BP melihat sekelompok siswa yang ketahuan merokok didekat WC laki-laki, guru BP itu langsung mengejar siswa-siswa itu dan meninggalkan Amanda sendirian didepan gedung sekolah lama. Amanda yang sudah 2 tahun disekolah tersebut, baru kali ini ia memasuki gedung sekolah lama yang terkenal angker disana. Amanda melihat dua ekor burung gagak di atap gedung tersebut.
Kenapa firasatku menjadi tidak enak seperti ini?
Ayo Manda tidak apa-apa itu hanya firasatmu saja.
Lalu Amanda langsung masuk gedung tersebut, dengan perasaan campur aduk ia mulai menaiki anak tangga untuk menaruh barang-barang tersebut ke ruang musik yang berada dilantai dua. Saat setengah jalan ia menaiki anak tangga tersebut, ia mendengar seseorang sedang memainkan piano yang begitu merdu dan dengan tempo yang cepat, sepertinya suara tersebut berasal dari ruang musik itu. Semakin lama nada tempo tersbut semakin lambat. Ketika Amanda sudah masuk ruang musik Amanda melihat bahwa tidak ada seorangpun berada diruangan itu dan piano tersebut juga sudah tidak berfungsi lagi. Sontak Amanda kaget dan ia langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut dan barang yang ia bawa, ia tinggalkan diluar ruangan musik begitu saja.
                Kejadian tersebut ia ceritakan kepada teman-temannya yang sudah menunggu Amanda untuk pulang bareng dihalaman sekolah. Ketika mendengarkan kejadian tersebut Adit teman Amanda terkejut mendengarnya karna menurut cerita-cerita disekolah itu, dulu salah satu siswi alumni yang berwajah putih berdarah keturunan Jepang  bernama Zuko sempat meninggal digedung tersebut dan sampai sekarang arwahnya masih bergentayangan disana. Menurut kepercayaan orang jepang angka 4 adalah angka keramat yang bisa disebut sebagai angka kematian. Maka siapa saja yang mendengarkan permainan piano arwah Zuko sampai keempat kalinya maka ia akan mati.
                Pada malam hari Amanda sedang mencuci piring tiba-tiba telpon berdering kriiinngg...kriinng...kriiing... Amanda lalu mengangkat telpon tersebut tetapi tidak ada orang yang menjawab, sampai ketiga kalinya telpon tersebut berdering.“Hallo! Ini siapa sih? Jtolong jangan main-main ya.” Dan Amanda mendengar permainan piano tersebut, dengan ketakutan ia langsung memutuskan kabel penghubung tersebut dan ia berlari ke kamarnya. Saat dikamar radio miliknya tiba-tiba hidup dan meneruskan permainan piano tersebut lalu dibantingnya radio itu oleh Amanda, tidak hanya radio kotak musik Amanda juga ikut meneruskan permainan piano itu, karena kotak musik itu berada diatas lemari dan Amanda tidak bisa menjangkaunya apa daya Amanda mendengarkan permaina piano arwah Zuko tersebut hingga selesai.
                Amanda tidak bisa tidur semalaman karena ketakutan dengan hantu tersebut, keesokan harinya dikamar Amanda mendengar ada yang membuka pintu kamarnya dan setelah terbuka krekk! “Aaaahhhh!!!” Amanda berteriak dan ternyata yang membuka pintu adalah ayahnya.
“Amanda, kamu sedang apa kok ayah buka pintu saja kamu sampai teriak kayak gitu?” Tanya ayah.
“T-tidak apa-apa yah.” Jawab Amanda yang masih menutupi dirinya dengan selimut.
“Oh, ayah Cuma mau bilang kalo ada telpon dari Adit. Eh, Adit itu pacar kamu ya? Hehehe”
“Iiiiihhhh.....bukan ayaaahhh.”
Saat Amanda mengangkat telponnya.
“Halo kenapa, Dit?”
“Manda, gue tahu gimana caranya biar bisa musnahin arwah Zuko itu.”
“Gimana?”
“Nanti aja gue ceritain, kita ketemuan aja sekarang di deket gang sekolah kalo ngomong ditelpon nanti lo kurang jelas.”
Dan ternyata yang menelpon itu bukan Adit tetapi hantu arwah Zuko yang menyerupai suaranya seperti Adit. Setelah sampai di gang sekolah rupanya Amanda melihat piano tersebut sedang memainkan musiknya, Amanda ketakutan dan segera berlari tapi ternyata piano tersebut tetap mengejar Amanda dan untuk ketiga kalinya Amanda mendengarkan permainan piano arwah Zuko itu sampai habis. Lalu Amanda langsung kerumah Raka.
“Loh Manda, lo kenapa kok nangis gitu? Atau jangan-jangan??”
Amanda, Raka, dan Adit segera ke gedung sekolah lama untuk memusnahkan piano tersebut malam itu juga. Ketika sampai diruang musik mereka mendengarkan suara piano itu.
“Permainan piano nya sudah dimulai.” Ujar Amanda.
“Ayo kita hancurkan piano itu, gue gak rela suara gue ditiru sama hantu sialan itu!” Geram Adit.
Dan Adit mencoba untuk menghancurkan piano itu, tetapi seperti ada penghalang Adit pun terlempar dari piano itu, “Bagaimana ini, piano itu tidak bisa dihancurkan? Aku tidak mau mati sekarang.”
“Gue gak rela kalo lo sampe mati cuma gara-gara permainan piano bodoh itu!” Sahut Raka.

Dan ternyata yang menjadi penghalang itu bukan pianonya tetapi lukisan pianis ternama disebelah paino tersebutlah yang menjadi penghalang. Salah satu cara untuk menidurkan arwahnya adalah dengan mengambil metronom dikotak yang ada diruangan itu. Tinggal satu bait lagi lagu itu akan habis, tetapi tekad Raka kuat ia langsung mengambil metronom tersebut untuk menidurkan arwah pianis itu dan akhirnya berhasil Amanda pun selamat dari kematian. Jika tidak cepat tinggal satu not lagi maka Amanda tidak akan selamat.

Created by Popy Tasya Rahayu

Kamis, 06 Februari 2014

Diskusi

Diskusi ditinjau dari tujuannya dibedakan menjadi : (1). The Social Problem Meeting, merupakan metode pembelajaran dengan tujuan berbincang-bincang menyelesaikan masalah sosial di lingkungan; (2). The Open ended Meeting, berbincang bincang mengenai masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dimana kita berada; (3). The Educational Diagnosis Meeting, berbincang-bincang mengenai tugas/pelajaran untuk saling mengoreksi pemahaman agar lebih baik.

Ditinjau dari Bentuknya, dibedakan menjadi :
1. Whole Group, merupakan bentuk diskusi kelompok besar (pleno, klasikal,paripurna dsb.)

2. Buz Group, merupakan diskusi kelompok kecil yang terdiri dari (4-5) orang.

3. Panel, merupakan diskusi kelompok kecil (3-6) orang yang mendiskusikan objek tertentu dengan cara duduk melingkar yang dipimpin oleh seorang moderator. Jika dalam diskusi tersebut melibatkan partisipasi audience/pengunjung disebut panel forum.

4. Syndicate Group, merupakan bentuk diskusi dengan cara membagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari (3-6) orang yang masing-masing melakukan tugas-tugas yang berbeda.

5. Brainstorming, merupakan diskusi iuran pendapat, yakni kelompok menyumbangkan ide baru tanpa dinilai, dikritik, dianalisis yang dilaksanakan
dengan cepat (waktu pendek).

6. Simposium, merupakan bentuk diskusi yang dilaksanakan dengan membahas berbagai aspek dengan subjek tertentu. Dalam kegiatan ini
sering menggunakan sidang paralel, karena ada beberapa orang penyaji. Setiap penyaji menyajikan karyanya dalam waktu 5-20 menit diikuti dengan sanggahan dan pertanyaan dari audience/peserta. Bahasan dan sanggahan dirumuskan oleh panitia sebagai hasil simposium. Jika simposium melibatkan partisipasi aktif pengunjung disebut simposium forum. 7. Colloqium, strategi diskusi yang dilakukan dengan melibatkan satu atau beberapa nara sumber (manusia sumber) yang berusaha menjawab pertanyaan dari audience. Audience menginterview nara sumber selanjutnya diteruskan dengan mengundang pertanyaan dari peserta (audience) lain Topik dalam diskusi ini adalah topik baru sehingga tujuan utama dari diskusi ini adalah ingin memperoleh informasi dari tangan pertama.

8. Informal Debate, merupakan diskusi dengan cara membagi kelas menjadi 2 kelompok yang pro dan kontra yang dalam diskusi ini diikuti dengan
tangkisan dengan tata tertib yang longgar agar diperoleh kajian yang dimensi dan kedalamannya tinggi. Selanjutnya bila penyelesaian masalah tersebut dilakukan secara sistematis disebut diskusi informal. Adapun langkah dalam diskusi informal adalah : (1). menyampaikan problema; (2). pengumpulan data; (3). alternatif penyelesaian; (4). memlilih cara penyelesaian yang terbaik.

9. Fish Bowl, merupakan diskuasi dengan beberapa orang peserta dipimpin oleh seorang  ketua mengadakan diskusi untuk mengambil keputusan. Diskusi model ini biasanya diatur dengan tempat duduk melingkar dengan 2 atau 3 kursi kosong menghadap  peserta diskusi. Kelompok pendengar duduk mengelilingi kelompok diskusi sehingga  seolah-olah peserta melihat ikan dalam mangkok.

10. Seminar, merupakan kegiatan diskusi yang banyak dilakukan dalam pembelajaran. Seminar pada umumnya merupakan pertemuan untuk
membahas masalah tertentu dengan prasaran serta tanggapan melalui diskusi dan pengkajian untuk mendapatkan suatu konsensus/keputusan
bersama. Masalah yang dibahas pada umumnya terbatas dan spesifik/tertentu, bersifat ilmiah dan subject approach.

11. Lokakarya/widya karya, merupakan pengkajian masalah tertentu melalui pertemuan dengan penyajian prasaran dan tanggapan serta diskusi secara teknis mendalam. Dalam diskusi ini bila perlu diikuti dengan demonstrasi/peragaan masalah tersebut. Peserta lokakarya pada umumnya

para ahli. Tujuannya mendapatkan konsensus/keputusuan bersama mengenai masalah tersebut. Telaahnya : Subject matter approach.

Pengen Yang Ori, Situ masih Ori?


                Banyak orang mengatakan “Masa remaja adalah masa-masa yang paling indah dan berkesan” mungkin kalimat itu akan terwujud apabila kita mengisinya dengan hal-hal yang positif, tapi bagaimana dengan sebaliknya? Persoalan inilah yang akan aku bahas kali ini, mendengarnya langsung dari narasumber yaitu temanku sendiri.
                Pengalamanku tentang masa remaja mungkin masih dibilang cetek, maksud kata cetek disini ialah aku hanya mengerti tentang suka pada lawan jenis, berpacaran dan mesra-mesraan sama pacar. Tapi setidaknya selama aku pacaran masih dibatas normal. Entah kenapa aku ingin sekali menceritakan hal ini, dan dari sekian cerita yang aku dengar hanya satu pertanyaan yang ingin aku ketahui, hal pertama apa yang ada dipikiran orang itu saat melakukan sesuatu yang dianggapnya saja sudah dosa? Begini ceritanya.
                Sebelum mengetahui lebih jelas biar tidak selek, perkenalkan namaku Natasha kalau susah panggil saja Chaca. Sekarang aku duduk dikelas 2 SMA disalah satu sekolah swasta yang ternama didaerahku. Singkat cerita, saat jam pelajaran dikelas sedang kosong seperti biasa aku mengisinya dengan mengobrol dengan teman-temanku. Saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba salah satu dari temanku datang menghampiriku “Cha, gue mau cerita nih sama lo tapi berdua aja.” Ucapnya dengan nada yang sedikit ragu, “Mmm...mau cerita apa ya?” Tanyaku, “Nanti gue kasih tau tapi gak disini. Yuk!” jawab dia sambil menarik tanganku. Lalu aku dibawa kebarisan bangku paling belakang, sepertinya memang sangat privat. Dalam hati aku bertanya-tanya, tapi sebaiknya aku simpan pertanyaan itu.
                “Gue mau curhat sama lo, tapi gue harap lo mau ngerahasiain ini semua dan gue harap juga lo jangan marah apalagi sampe maki-maki gue, janji ya sama gue Cha?” tanya dia sambil ketakutan, “Iya-iya gue bakal jaga rahasia dan gue juga gak bakal marah sama lo.” Jawabku. “Jadi gini ceritanya, semalem gue diajak jalan sama cowok gue ke pesta kembang api, terus saking keasyikan ngeliat kembang api sama petasan gue sampe lupa waktu. Gue baru sadar pas pestanya udah selesai, sekitar jam 3 pagi gue ajak pulang  cowok gue. Pas dijalan tiba-tiba motornya mogok karena kehabisan bensin, untungnya aja udah deket sama tempat kost dia. Nah, pas udah isi bensin gue disuruh sama dia buat mampir ke kost-annya yaudah gue nurut aja. Pas udah sampai, dia suguhin gue minum. Disitu kita ngobrol-ngobrol, disela obrolan kita dia langsung cium pipi gue, ya gue bales aja ciumannya. Terus dia langsung membaringkan tubuh gue dilantai, mungkin karena posisi itu gue udah kebawa sama hasrat gue, dimalam menjelang subuh gue udah ngelakuin ML sama dia.” Jelasnya. Maaf ceritanya sedikit terbuka, jadi aku singkat aja ceritanya hehehe. Sontak aku kaget mendengarnya, aku tidak percaya teman yang selama ini aku lihat ia sangat polos ternyata sudah melakukan hal yang diluar dugaanku. Selesai dia menceritakannya, aku hanya dapat menasihatinya saja.
                Mau bagaimana lagi, ia sudah melakukannya ya dia harus bertanggung jawab meskipun memang belum sampai kebobolan. Tapi seharusnya dia bisa berpikir jernih lah, seorang perempuan jalan sama pacarnya dari malam sampai fajar apa itu bisa dikatakan wajar? Dan kalau sudah melakukan hal seperti itu tidak menjamin kalau kamu akan langgeng dengan pacar kamu. Seandainya kalau kamu putus sama dia, hal apa yang akan kamu lakukan? Sementara laki-laki diluar sana menginginkan sosok perempuan yang masih ori. Kalau kamu sudah berbekas, kamu mau berbuat apa? Saat aku menasihatinya ia hanya menundukkan kepalanya, mungkin ia sadar kalau perbuatannya itu salah.
                Jadi, jagalah kehormatanmu hingga kamu menikah kelak. Aku tahu kalau remaja itu keingintahuannya besar, tapi seenggaknya kaita bisa menahannya bukan? Anggaplah sebagai kejutan kita dikemuadian hari. Seorang laki-laki tidak akan melakukan hal seperti itu jika si perempuan juga tidak murahan.
Created by Popy Tasya Rahayu

Senin, 03 Februari 2014

Menua di Masa Remaja

                Namaku Rasya, aku sudah pacaran selama 18 bulan dengan teman SMP ku yang bernama Putra, ketika kami lulus kami membuat sebuah komitmen untuk tetap bersama meskipun beda sekolah dan beda kota. Entah apa yang aku pikirkan saat itu tentang sebuah komitmen, dan aku pun tidak tahu apa itu komitmen. Saat pengambilan SKHUN dan Ijazah Putra mengajakku untuk segera ke balkon sekolah, tampaknya ia ingin berbicara serius denganku. Saat sudah sampai di balkon, ia memandangku dengan wajah yang penuh harap agar aku bisa mengerti dan tetap mempertahankan hubungan kami, dengan mata yang berkaca-kaca ia hanya berpesan, “Jaga diri kamu baik-baik ya, aku sayang banget sama kamu. Aku harap kita bisa seperti ini terus.”. Dalam keadaan seperti itu aku tidak tahu harus berkata apa, aku hanya terdiam dan mengangguk dengan refleks aku langsung memeluknya untuk terakhir kalinya.
Sebulan setelah kelulusan Putra pindah ke luar kota, tepatnya di Bandung. Mulanya biasa saja, kami masih tetap contact-an dan masih bisa tertawa seperti tidak terjadi apa-apa, kalau kata orang-orang bilang jarak bukanlah sebuah halangan dalam menjalani sebuah hubungan. Tapi semakin kesini kami semakin dingin, saat itu aku masih mengerti kenapa ia tidak ada kabar karena disana sinyal memang tidak bersahabat, tetapi semakin hari dan sudah beberapa bulan tidak ada kabar darinya. Ketika aku coba mengecek untuk menghubunginya ternyata nomernya sudah tidak aktif, aku semakin tidak mengerti dengan semua ini? Dalam hati aku menyimpan banyak pertanyaan, “Apa yang terjadi dengannya? Apa dia baik-baik saja disana? Atau memang janji yang ia buat sudah ia lupakan?”. Saat itu aku langsung bertindak untuk mencari tahu tentangnya, entah itu dari temannya atau dari social media tetapi teman-temannya pun juga sudah lost contact dengannya. Aku tidak menyerah, aku harus dapat penjelasan kenapa seperti ini. Hingga akhirnya muncul rasa keputus-asaanku, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini.
Aku bingung harus berbuat apalagi, aku mencoba untuk memulai kehidupan yang baru dengan hari-hari ku yang ceria. Aku mulai mengisi segala kesibukan untuk tidak memikirkan masalahku itu dengan menjawab soal pelajaran yang tidak aku mengerti sama sekali, menonton film yang sebenarnya tidak begitu aku suka, bermain dengan teman-temanku, dan aku selalu berdo’a kepada Allah agar aku diberi kekuatan dan ketabahan dalam menjalankan cobaan yang diberikan-Nya kepadaku. Karena aku percaya Allah tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya diluar kemampuan kita.
Sampai-sampai aku menceritakan masalah ini kepada teman dekatku yang bernama Devi, sebenarnya aku malu menceritakan masalah ini kepadannya tapi apa daya setiap manusia pasti ingin mendapatkan nasihat dan pengarahan dalam masalahnya. Saat aku menceritakan semuanya, ia sontak meberi nasihat kepadaku tanpa memandang siapa yang ia nasihati, “Ya ampun bro! Lo mesti sadar, lo gak boleh ketergantungan  ama kriwil. Lo kayak kecanduan narkoba tau!! Lo bisa sakau gara-gara manusia kriwil gak jelas! Jangan pikirin dia lagi! Berusaha ngelupain apa yang udah buat lo jadi kayak orang alay (ngegalauuuu mulu) + kayak orang bodoh. Lo mesti pilih jalan yang bener, ngegalauin dia tuh jalan yang salah banget! Dia tuh Cuma pacar LDR lo, gak lebih kan! Apa yang lo rasain, dia gak tau dan gak mau tau.. lo kayak air susu yang dibalas air tuba!” ujar Devi. Ia memanggil Putra dengan sebutan kriwil karena terlihat dari rambutnya yang kriting.
Sejak kejadian itu aku mulai sadar, tidak sepantasnya aku mengharapkan orang yang tidak jelas keberadaannya. Toh kalo emang jodoh pasti bakal balik lagi, maka dari itu aku sudah tidak pernah mencari tahu tentang keberadaannya. Beberapa bulan kemudian ada salah satu dari teman sekolahnya, mengirimkan sebuah foto yang disalah satu fotonya ada gambar Putra. Entah kenapa perilaku itu datang kembali, rasa penasaranku semakin memuncak dan akhirnya aku mencari tahu dengan mengotak-atik di pencarian facebook. Tanpa ku sangka semua keraguan ini terjawab ya, ternyata Putra membuat akun baru yang pertemanannya memang tidak ada satu pun nama dari teman SMP nya, dan yang memang bikin aku benar-benar harus melupakan dan meninggalkannya adalah dia sudah memiliki wanita lain selain ibu nya.
Setelah melihat kejadian itu, bukan rasa sakit hati yang aku rasa sebaliknya aku hanya biasa saja melihat itu. Mungkin karena rasa ini memang benar-benar sudah tidak ada lagi tempat buat dia. Selama ini aku juga bodoh, hanya mengharap laki-laki yang tidak jelas dan hanya membuang-buang waktu saja menunggunya, semua nasihat orang lain aku hiraukan begitu saja. Mungkin memang aku harus bisa merasakannya terlebih dahulu agar aku bisa memilih mana yang pantas aku tinggalkan dan mana yang tidak.

Kalau memang laki-laki itu baik buatku, dia tidak sepantasnya menelantarkanku begitu saja menghabiskan masa remajaku hanya untuk laki-laki yang belum tentu ia jadi imamku kelak dan aku menua dalam penantian. Aku pun segera bergerak cepat, menyusun kembali puzzle kehidupan yang belum aku ketahui akan berakhir seperti apa dan mencoba mencari laki-laki yang terbaik diantara yang baik. Aku belajar dari masa lalu, bukan hidup dimasa lalu.

Created by Popy Tasya Rahayu

Selasa, 22 Oktober 2013

Pengelolaan Administrasi Kas dan Bank

Dalam pengertian sehari-hari yang dimaksud dengan Kas (Cash) adalah sebatas uang kertas maupun uang logam yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah. Sedangkan dalam Standar Akuntansi Keuangan menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kas ialah alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan. Dengan demikian yang dimaksud kas dalam pengertian akuntansi meliputi uang kertas maupun uang logam dan benda-benda lain yang mempunyai sifat seperti uang. Adapun sesuatu dapat dikatakan kas apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :

·         Diakui secara umum sebagai alat pembayaran yang sah
·         Dapat digunakan setiap saat bila diperlukan
·         Penggunaannya bersifat bebas
·         Diterima sesuai nominalnya pada waktu diuangkan

Dari uraian di atas, maka yang termasuk dalam golongan kas antara lain :

·            Mata uang dalam negeri, yaitu Rupiah yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia ( BI )
·            Mata uang asing yang dikeluarkan oleh negara lain, misalnya ; US dollar, Yen, Mark, dll
·            Demand deposit, yaitu simpanan di bank yang setiap waktu dapat diambil kembali
·            Cek sebagai pembayaran yang diterima dari pihak lain
·            Trevelers Check ( Cek Perjalanan)
·            Chasirs Check ( Kasir Cek)
·            Wesel Pos

Ada beberapa yang secara sepintas nampak sebagai golongan kas namun tidak dapat digolongkan sebagai kas, antara lain :

·            Uang yang disisihkan untuk tujuan tertentu
·            Cek mundur
·            Cek kosong
·            Persediaan prangko
·            Deposito berjangka
·            Rekening giro pada bank di luar negeri yang tidak dapat segera dipakai

KELENGKAPAN PENGELOLAAN KAS BANK 

Kegiatan utama yang berhubungan dengan kas meliputi tiga kegiatan, yaitu : Penerimaan Kas, Pengeluaran Kas, dan Penyimpanan Kas. Pengelolaan kas yang dilakukan perusahaan mungkin berbeda-beda, namum pada dasarnya akan mengarah kepada pengawasan kas yang bertujuan untuk keamanan kas dari penyelewengan ataupun kecurangan-kecurangan yang mungkin terjadi. Oleh karena itu dalam rangka pengelolaan kas perlu dipahami lebih dahulu tentang Prosedur Penerimaan Kas, Prosedur Pengeluaran Kas, serta selanjutnya menentukan bahan dan alat yang diperlukan.

Prosedur Penerimaan dan Pengeluaran Kas Bank
Sebelum membicarakan prosedur penerimaan dan pengeluaran kas lebih lanjut terlebih dahulu kita lihat apa yang dimaksud prosedur dalam lingkup akuntansi.
Prosedur adalah suatu urutan kegiatan kralikal yang melibatkan beberapa orang dalam satu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang tejadi berulang-ulang.
Kegiatan klasikal itu sendiri adalah kegiatan untuk mencatat informasi dalam formulir, buku jurnal, buku besar, dan buku lainnya, meliputi :
·            Menulis
·            Menggandakan
·            Menghitung
·            Memberi kode
·            Mendaftar
·            Memilih memindah
·            Membandingkan

Bahan dan Peralatan Dalam Pengelolaan Kas Bank
Bahan dan peralatan yang dibutuhkan dalam pengelolaan kas bank secara akuntansi manual, antara lain :
·            Bukti penerimann dan Pengeluaran Kas
·            Buku jurnal penerimaan kas dan buku jurnal pengeluaran kas.
·            Buku kas kecil
·            Alat tulis kantor ( pulpen, pensil, penggaris dll)
·            Kalkulator atau alat hitung lain
·            Rekening koran dari bank
·            Formulir-formulir laporan